DOSEN MENJADI NARASUMBER DI AUSTRALIA
4 Mei 2026
Dr. Nur Rofiah, Bil.Uzm., dosen di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) Universitas PTIQ Jakarta, baru saja selesai mengikuti Women Deliver 2026 di Melbourne Convention and Exibition Centre Autralia sebagai narasumber. Event yang berlangsung pada 27 hingga 30 April 2026 ini adalah konferensi internasional besar yang mempertemukan pemimpin dunia, pembuat kebijakan, advokat, akademisi, aktifis. dan penggerak perubahan dari berbagai dunia. Selama konferensi berlangsung, terdapat banyak sekali forum menarik dan penting. Ada yang bersifat undangan terbatas, ada yang harus mendaftar dulu, dan ada pula yang bisa diikuti tanpa harus mendaftar dulu. Rata-rata forum berlangsung mulai 90 hingga 120 menit. Topik diskusinsangat bervariasi mulai dari perjuangan para penduduk pribumi di negara-negara maju yang tersingkirkan dari derap modernitas hingga teknologi AI dalam gerakan perempuan.
Women Deliver adalah organisasi advokasi global terkemuka yang berdedikasi untuk memperjuangkan kesetaraan gender, serta kesehatan dan hak-hak reproduksi anak perempuan dan perempuan di seluruh dunia. Konferensi yang baru saja berakhir ini dihadiri oleh 6.500 peserta lebih yang berasal dari 180 negara lebih. Fokus konferensi kali ini adalah memajukan kesetaraan gender, kesehatan reproduksi, serta hak-hak perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia.
Nur Rofiah menjadi undangan resmi forum global yang diinisiasi oleh ARROW (Asian-Pacific Resource & Research Centre for Women) untuk menjadi peserta Women Deliver 2026 sekaligus narasumber dalam forum Pre-Conference sesi Breaking Barriers: Bold Solutions Accross Different Sectors and Stakeholders terkait dengan praktik FGMC (Female Genital Mutilation and Cutting). Nur Rofiah berbagi tentang pengalaman sebagai akademisi dan tokoh agama perempuan dalam menghentikan praktik berbahaya ini.
Pengalaman paling mengesankan dari pertemuan ini menurutnya adalah pengetahuan tentang keragaman isu, tantangan, dan konteks yang dihadapi oleh perempuan di berbagai negara. “Pemanusiaan perempuan menjadi spirit yang menyatukan beragam perempuan ini, namun cara, strategi, dan dalam bentuk apa proses pemanusiaan ini diperjuangkan tentu mesti mempertimbangkan konteks masing-masing, termasuk konteks saya sebagai dosen Ilmu al-Qur’an dan Tafsir di Universitas PTIQ ini.”